• - +

Artikel

Infrastruktur Jalan Menuju Desa Padang Capo, Kabupaten Seluma
ARTIKEL • Kamis, 25/07/2019 • Arya Banga
 
Kondisi Jalan menuju Desa Padang Capo Kabupaten Seluma

SHARE

Perjalanan Tim Pengawasan Pelayanan Publik di daerah Marjinal Ombudsman Pusat bersama dengan Tim Ombudsman Perwakilan Bengkulu dimulai dari Kota Bengkulu dengan tujuan Desa Padang Capo. Desa Padang Capo berada di Kecamatan Lubuk Sandi Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu. Desa Padang Capo terdiri dari 2 Desa, yaitu Desa Padang Capo Ilir dan bersebelahan dengan Desa Padang Capo Ulu, letak Desa Padang Capo Ulu bersebelahan langsung dengan Taman Nasional Bukit Barisan. Berdasarkan data yang diperoleh, Desa Padang Capo merupakan termasuk kategori Desa tertinggal, oleh karenanya, Tim pengawasan pelayanan publik di daerah marjinal hendak melihat langsung kondisi pelayanan publik di desa tersebut.

Pukul 07.30 WIB Tim berangkat dari Kota Bengkulu menuju Kecamatan Sukaraja dengan menggunakan kendaraan roda empat biasa. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit, dengan kondisi jalan beraspal yang mulus. Tiba di Kecamatan Sukaraja, Tim menyewa kendaraan roda empat yang menggunakan Double gardan (4x4). Dikarenakan informasi sementara yang diperoleh, jalan menuju Desa Padang Capo hanya dapat dilalui kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat dengan spesifikasi double gardan (4x4).


Kebetulan, mobil yang Tim naiki juga berisi dengan beberapa warga yang hendak pulang ke rumahnya di Desa Padang Capo. Pukul 08.30 WIB Tim berangkat dari Kecamatan Sukaraja, dari jalan besar di Kecamatan Sukaraja, sejauh 5 KM jalan sangat bagus, aspal yang mulus dengan garis putih pembatasnya. Berdasarkan informasi dari warga setempat, jalan aspal tersebut baru dibangun sejak 2 tahun yang lalu, yaitu pada tahun 2017.

Melewati 5 KM pertama dan setelah melewati perkebunan PTPN VII, kondisi jalan berubah drastis menjadi jalan tanah dan bebatuan namun masih rata dan masih nyaman dilalui kendaraan roda empat. Semakin jauh mobil yang Tim naiki melaju, semakin parah juga jalan yang dilalui, kecepatan rata-rata hanya bisa ditempuh 15 KM/Jam, jalan tanah mulai sudah tidak rata dan mulai bergelombang, bahkan kondisi jalan tidak beraturan, batu-batu besar bertebaran di sepanjang dan pinggir jalan sehingga membuat pengemudi harus "zigzag" mencari jalan.

Saat itu cuaca cukup baik, dan semalam juga tidak turun hujan sehingga tanah yang dilalui cukup padat dan tidak ada lumpur. Berdasarkan informasi dari Bapak Suwe, pengemudi mobil yang Tim tumpangi, jika sedang turun hujan atau sehari sebelumnya hujan maka jarak tempuh menuju Desa Padang Capo bisa mencapai 10 jam, bahkan bisa menginap di jalan dikarenakan jalan berlumpur. Motor dan mobil juga harus menggunakan rantai khusus untuk melewati jalan, dikarenakan jika tidak menggunakan rantai tidak bisa jalan. Untuk biaya pembeliaan rantai sebesar Rp.50.000 per KG dan sering dilakukan perawatan karena sering putus akibat terkena batu besar.


Keadaan jalan yang rusak ini sangat mengganggu untuk para Guru yang mengajar di Sekolah di Desa Padang Capo, dikarenakan banyak guru yang tinggal diluar Desa Padang Capo, jika hujan turun maka mereka tidak bisa mengajar ke sekolah dikarenakan jalan yang berlumpur yang tidak bisa dilalui. Menurut Pak Suwe juga, beberapa hari belakangan ini jalan sudah cukup lumayan dilalui, karena beberapa waktu yang lalu, ada buldozer/alat berat yang lewat jalan ini, sehingga masyarakat meminta sekalian untuk menguruk atau membuka/memperlebar jalan baru.

Buldozer tersebut bukan merupakan bantuan Pemda untuk memperbaiki jalan, namun buldozer tersebut digunakan untuk membuka jalan baru atau untuk perkebunan, sehingga warga memberikan "uang rokok" kepada petugas buldozer untuk merapihkan jalan.

Desa Padang Capo merupakan desa penghasil kopi, sehingga masyarakat sering membawa hasil bumi dari desa menuju ke Kecamatan. Untuk transportasi biasanya warga menggunakan mobil dan motor untuk mengangkut hasil bumi nya, dan untuk membeli bahan pokok sehari-hari. Masyarakat Desa Padang Capo yang tidak punya kendaraan, untuk menempuh ke Kecamatan bisa menggunakan ojek motor dengan tarif Rp.100.000 dan Rp.150.000 jika kondisi hujan, dan Rp.50.000 per orang jika dengan menggunakan mobil sewa. Atau ada juga masyarakat yang menumpang kendaraan lain. Ada juga warga yang berjalan kaki, seperti yang ditemui Tim di tengah perjalanan melihat sekeluarga yang sedang berjalan menuju kecamatan Sukaraja. Menurut Pak Suwe, perjalanan dengan berjalan kaki bisa ditempuh selama 2 jam.