Yang Tersisa dari Turis China

Turis China telah kembali ke negaranya pada Kamis lalu. Novrial, Kepala Dinas Pariwisata mengatakan bahwa turis China disambut dengan senyum oleh Gubernur dan dilepas dengan senyum pula olehnya di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Persis seperti yang direncanakan oleh biro travel, turis China pulang sesuai jadwal kendati sebelumnya ada suara-suara dan upaya untuk memulangkan lebih cepat.
Banyak kontroversi terkait hal tersebut. Tapi bagi saya pribadi, kita sedang apes saja. Waktunya tidak tepat. Persoalannya adalah kedatangan turis dari China di saat yang sama dengan adanya wabah virus berbahaya yang juga berasal di China. Itu saja. Kendati ada pihak mencoba menarik-narik kontroversi kedatangan turis China ke kiri dan ke kanan, rasis, sentimen anti-Tionghoa dan lain-lain. Ah kejauhan, lebay.
Apresiasi perlu disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan pihak terkait lainnya. Di tengah kontroversi, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Dinas Pariwisata, Otoritas Bandara, Angkasa Pura II, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) secara berkolaborasi telah memastikan dan melakukan thermo scanning terhadap para turis. Mereka menerapkan prosedur yang ketat guna memastikan bahwa tidak ada turis China yang terjangkit virus. Merry Yulisday, Kepala Dinas Kesehatan mengatakan, selama turis berada di Sumbar, pihaknya bersama tim melakukan pemeriksaan kesehatan kepada turis setiap hari.
Jika ada sedikit kegaduhan kemarin, menurut saya itu lebih disebabkan oleh pola komunikasi publik pemerintah daerah. Pemerintah daerah tampak gugup dan salah tingkah merespon kedatangan turis China. Memang ada undangan dari PT. Coco Tour ke Gubernur, tapi kehadiran Gubernur di BIM menyambut turis China disebut lebih karena kebetulan, bukan bermaksud menghadiri. Kebetulan Gubernur mendarat pada jam yang sama di BIM. Pemerintah tampak ingin "bersilat" di tengah kontroversi.
Selain itu, Gubernur mengatakan pihaknya tidak punya kewenangan menolak. Karena yang mengizinkan adalah pusat, tanpa ada keterangan apakah pernah Pemerintah Provinsi meminta kepada Pemerintah Pusat untuk mempertimbangan pemberian visa atau izin kedatangan turis itu ke Sumbar. Bupati Tanah Datar menolak secara halus. Bupati Pesisir Selatan malah tidak tahu, walaupun para turis China sudah masuk ke kawasan wisata Mandeh.
Apalagi di tengah itu, Wakil Gubernur juga mengungkap akan mengupayakan pemulangan lebih awal para turis China. Pemerintah Daerah pun demikian, tampak tidak yakin dan menyakinkan. Hal itulah yang telah membuat kontroversi itu semakin menguat dan membuat masyarakat semakin khawatir.
Kebetulan pertama, adalah sama-sama mendarat di BIM. Kebetulan kedua adalah saat Gubernur sholat di Masjid Raya Sumatera Barat, di saat yang sama, 15 turis China juga sedang berkunjung ke Masjid Raya. Jadilah Gubernur sholat berjamaah dengan para turis. Hal ini tentu membawa dampak "menenangkan masyarakat". Foto-foto dan beritanya pun menyebar luas. Pada kesempatan itu turis China meminta maaf kepada Gubernur karena telah menyusahkan masyarakat Sumbar. Saat itu pula suasana seperti berbalik, mood publik di media sosial berubah positif.
Untuk ke depan, perlu dilakukan konsolidasi informasi oleh Pemerintah Daerah di tengah krisis/kontroversi semacam ini. Pemerintah jangan memicu disinformasi ditengah masyarakat. Ombudsman juga telah menyarankan Dinas Kesehatan untuk membuka layanan informasi dan pengaduan penanganan virus Corona, terutama yang terkait dengan mitigasi dan pedoman kesiapsiagaan.
Pedoman Kesiapsiagaan
Turis China kembali ke kampungnya, tapi sekali lagi persoalan belum usai. Masih ada pekerjaan berat. Pintu masuk potensi penularan harus dipantau ketat. Di Sumatera Barat saja misalnya, ada banyak pintu masuk mobilisasi orang. Diantaranya BIM dan Pelabuhan Teluk Bayur. Kendati di pelabuhan yang banyak terjadi adalah mobilitas barang, tapi paling tidak, disana juga ada orang, seperti kru kapal yang tentu pelayarannya juga lintas negara.
Secara khusus, di daerah juga perlu meningkatkan pengawasan barang, baik barang bawaan maupun barang komoditi, khususnya yang berasal dari negara-negara terjangkit. Terhadap penyakit maupun faktor risiko kesehatan, melalui pemeriksaan dokumen kesehatan dan pemeriksaan faktor risiko kesehatan pada barang. Jadi tetap butuh konsentrasi penuh di Pelabuhan Teluk Bayur.
Syukurnya pada 28 Januari 2020, Kementerian Kesehatan melalui Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit telah menerbitkan Pedoman Kesiapsiagaan Infeksi Virus Corona. Pedoman tersebut menuangkan pedoman pelaksanaan surveilans dan respon Kejadian Luar Biasa (KLB)/wabah, pelaksanaan manajemen klinis infeksi saluran pernapasan akut berat (pada pasien dalam pengawasan 2019-nCoV), pelaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi selama perawatan kesehatan, pelaksanakan pemeriksaan laboratorium, dan pelaksanaan komunikasi risiko dan ketherlibatan masyarakat dalam kesiapsiagaan dan respon. Hanya saja, pedoman tersebut mesti tersosialisasi ke masyarakat luas.
Yang tersisa dan yang belum dibahas setelah kepulangan turis China adalah soal masa depan Sumbar sebagai tujuan destinasi wisata halal, dimana Gubernur dapat penghargaan untuk itu.
Dengan adanya rencana mendatangkan satu pesawat turis China setiap minggu, apakah yang disasar adalah turis muslim China, secara khusus nanti bolehlah dijawab oleh para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (ASITA) Sumbar. Sejak awal, saya lihat ASITA irit ngomong soal kontroversi kedatangan turis China ini, atau nanti dijawab oleh Kepala Dinas Pariwisata saja. ASITA, PT Mawarawa Corporate dan Dinas Pariwisata nampaknya juga perlu duduk bersama membahas hal ini.








